Archives

✿ Bedakan antara Memboikot dan Tidak Memaafkan ✿

aisyah

Manusia itu tidak sempurna, yang terkadang ia bisa melakukan suatu kesalahan. Dan sebagai insan yang dhoif, pasti kita pernah merasa kecewa atas sikap dan kesalahan teman, saudara, tetangga, ataupun keluarga kita tersebut.

Bila sikap tersebut telah nampak, maka tidak ada larangan untuk kita kecewa, atau bahkan tidak bisa memaafkan. Tapi tidak memaafkan bukan berarti memboikot. Meskipun memaafkan itu sulit, meskipun rasa kecewa itu tidak mudah untuk dihilangkan, tapi kita tidak boleh mengabaikan hak-hak seorang muslim. Continue reading

# Puasa Sejati #

Dikisahkan pada suatu hari Imam Ahmad Ibnu Hambal Rahimakumullah (seorang ulama besar islam) sedang berpuasa. Menjelang buka puasa yaitu ketika beliau hendak berbuka dengan dua potong roti kering, datanglah seorang pengemis ke rumah beliau untuk meminta-minta. Imam Ahmad merasa iba, lalu beliau memberikan dua potong roti kering yang akan digunakannya untuk berbuka kepada pengemis tersebut. Sehingga tidak ada makanan tersisa, oleh karena itu beliau kemudian berbuka dengan segelas air putih. Dan keesokan harinya, beliau juga sahur dengan segelas air putih.  Maa Syaa Allah.

Begitulah sosok orang-orang yang puasanya telah mempengaruhi perilaku kesehariannya. Dan kriteria puasa yang bisa mempengaruhi perilaku adalah puasa yang sejati. Yaitu puasa yang tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus, melainkan maknanya lebih luas. Seperti yang dikatakan oleh Jabir bin Abdullah, seorang sahabat nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Apabila engkau berpuasa hendaklah telinga kamu ikut berpuasa, lisan kamu ikut berpuasa, dan mata kamu ikut berpuasa”.

Puasa mata maksudnya menjaga mata dari melihat hal-hal yang dilarang oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Demi mengamalkan firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, “Katakanlah Muhammad kepada kaum muslimin agar mereka menundukkan pandangan (mata) dan menjaga kemaluannya”. Jadi di dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa mata ini seharusnya digunakan untuk melihat sesuatu yang tidak dimurkai oleh Allah. Continue reading

# Bagai Gelombang Lautan #

Oleh: Ust. Badrusalam, Lc

 

Di lautan, ada ombak yang datang silih berganti. Satu ombak datang kemudian pergi, lalu akan ada ombak lain yang akan kembali datang. Ombak yang menerpa bebatuan karang.

Ada sesuatu yang mirip dengan ombak yang Rasulullah kabarkan dalam riwayat Bukhari dan Muslim, dimana Umar bin Khatab pernah bertanya kepada para sahabat yang sedang berkumpul, “Siapa diantara kalian yang mengetahui sebuah hadits tentang fitnah?” Continue reading

KETIKA KITA DAPAT MENAHAN AMARAH

Oleh               : Eko Afza

Muroja’ah     : Ust. M. Sulhan Jauhari, Lc

Dinukil dari :Buletin Dakwah “Al-Iman” edisi 129 Tahun ke-3 No.25 (Sya’ban 1434 H)

 

Siapapun dari kita pasti pernah marah. Bahkan tak sedikit yang merasakan mrah dan emosi yang sangat membara. Memang tak dapat dipungkiri bahwasanya marah adalah tabiat yang tidak akan mungkin luput dari manusia, karena marah merupakan hawa nafsu yang Allah telah tetapkan ada pada diri setiap manusia.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun terkadang timbul rasa marah pada diri beliau. Disebutkan dalam sebuah hadits yang dirwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahih-nya bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan, “Aku ini hanya manusia biasa, aku senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah” (HR. Muslim).

Hadits tersebut menunjukkan bahwasanya seorang paling mulia di muka bumi ini pun tidak luput dari sifat marah. Namun perlu digarisbawahi, marahnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentu marah yang terpuji, yaitu ketika syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dilanggar dan tidak dijalankan oleh para sahabatnya. Hal ini juga menjelaskan kepada kita semua bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam merupakan manusia biasa yang Allah turunkan wahyu kepada beliau. Continue reading

Iman Adalah Karunia Allah ♥

Untuk diri yang sangat mencintai kitab ilmu, membacanya, mempelajarinya, dan mengamalkannya. Untuk diri yang mudah menghadiri majelis-majelis ilmu. Untuk diri yang selalu membaca kalamullah dan mentadabburinya. Untuk diri yang sedang menghafalkan ayat-ayat suci Al-Quran. Untuk diri yang selalu menjaga sholatnya. Untuk diri yang berusaha menyempurnakan amalannya dan berakhlaq baik.
Untuk diri yang telah menjauhi kemunkaran dan maksiat.

Alhamdulillaadzi bi ni’matihi tatimmush-sholihaat. Segala puji bagi Allah atas setiap nikmat yang tercurahkan. Khususnya atas nikmat iman yang memenuhi hati-hati kita tersebut.

Yang mana kala itu setiap kesempitan terasa lapang. Setiap kesedihan, terkikis bagaikan batu karang. Hati menjadi tenang, tenteram, dan ringan tanpa beban. Dimana rasa lelah tak nampak kehadirannya.

Adakah diantara kita yang terlalu berbangga diri atas ilmu yang kita miliki meskipun ilmu itu sedikit? Bangga atas amal sholeh yang telah dilakukan? Bangga atas banyaknya kalamullah yang telah dihafal?
Tidak. Semua itu terjadi bukan karena “diri kita sendiri”, melainkan atas kehendak Allah. Allah lah yang menggerakan hati-hati kita untuk melakukannya.
Simaklah firman Allah berikut ini, “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan….” (QS. Al-Hujurat: 7-8).

Bahkan, seseorang yang menjadi penghuni surga pun adalah karena karunia Allah.

Allah berfirman tentang ucapan penghuni Surga, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga) kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. ” (QS al-A’raaf: 43).

Telah jelas dalil-dalil yang menceritakan bahwa karunia & hidayah adalah murni berasal dari Allah. Jadi, masihkan berbangga diri atas semua amal & ibaadah kita? Seyogyanya orang yang beriman akan berfikir dan membuang rasa sombongnya. Karena, kebaikan tidak akan terjadi & kemunkaran tidak akan terhindarkan melainkan karena Allah semata.

Dan sebaiknya kita berdoa untuk meminta dan mempertahankan hidayah yang telah kita dapatkan. Adapun doa yang bisa dilafadzkan yaitu:

ﺍﻟﻠَّﻬُﻤَّﺎﻫْﺪِﻧَﺎﻓِﻴﻤَﻨْﻬَﺪَﻳْﺖ
“Ya Allah, berikanlah hidayah kepadaku di dalam golongan orang-orang yang Engkau berikan hidayah.” (HR Abu Dawud no. 1425)

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻭَﺍﻟﺘُّﻘَﻰ، ﻭَﺍﻟْﻌِﻔَّﺔَ ﻭَﺍﻟْﻐِﻨَﻰ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (dari segala keburukan) dan kekayaan hati (selalu merasa cukup dengan pemberian-Mu). ” (HSR Muslim no. 2721).

*Faedah tabligh akbar bersama Syaikh Abdul Rozzaq*

Continue reading

# Persiapan Bekal untuk Perjalanan Abadi #

 

Hidup di dunia seringkali kita melakukan perjalanan. Berkendara, singgah dari satu kota ke kota lain, mengarungi lautan dari satu negeri ke negeri yang lain, terbang di angkasa bersama pesawat. Ketika kita melakukan perjalanan di kehidupan ini, selalu ada harapan di hati kita untuk kembali ke kampung halaman, berkumpul dengan keluarga dan sahabat.

Continue reading

# Apabila Musibah Menimpa #

 

“Mukmin yang kuat itu lebih disukai dan dicintai oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala daripada mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing keduanya ada kebaikan. Akan tetapi  Allah Subhaanahu Wa Ta’ala lebih menyukai mukmin yang kuat, mukmin yang tegar”.

 

Yaitu yang tegar layaknya batu karang dalam menjalani kehidupan. Istiqomah di atas imannya, agama, ketaatan kepada Allah, tidak mudah menyerah. Lalu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam melanjutkan di dalam hadits, “Maka mintalah bantuan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan jangan kamu melemah”.

Continue reading