Nasehat Tentang Waktu dan Kiat-Kiat Mengisi Waktu

Pemateri         : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ahad, 22 Februari 2015 @ Masjid Jakarta Islamic Centre

11015481_782826415105499_6427434009752882179_n 

Sesungguhnya, hidup di dunia ini hanyalah sementara. Allah Ta’ala menciptakan manusia dan menguji mereka, agar nampak siapa yang paling baik amalannya. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Al-Mulk ayat 2 yang artinya, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun

Karena kematian, siksa kubur, dibangkitkan dari kubur, surga dan neraka adalah suatu kepastian. Maka setiap manusia harus siap menghadapinya.

Rasulullah besabda, “Tidaklah tergelincir kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal atas dirinya: Umurnya; dihabiskan untuk apa, Waktu mudanya; digunakan untuk apa,  Ilmunya; apakah diamalkan atau tidak, Hartanya; darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya” (Hadist Hasan, Riwayat Tirmidzi )

Waktu sangat berharga sehingga Allah berfirman dalam surat Al-Ashr: 1-3 yang artinya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.  Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Waktu merupakan modal dan kematian tidak mengenal tempat, waktu, dan siapa kita.

Firman Allah dalam Q.S Al-Imran: 185 yang artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Dari ayat tersebut yang harus digarisbawahi adalah kalimat, “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” Hal menunjukkan bahwa ukuran sukses bukanlah dunia (punya harta banyak dan jabatan yang tinggi). Melainkan sukses itu adalah “Dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga”.

Dan manusia tidaklah dibiarkan begitu saja di bumi ini, sebagaimana firman Allah “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan sia-sia begitu saja?“ (Al Qiyamah:36)

Allah juga berfirman dalam Q.S Al-Mukminun:115 yang artinya, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Karena sesungguhnya Allah menciptakan manusia hanya beribadah kepada Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Sebagai pelajaran, Allah pun menceritakan kondisi orang-orang kafir, yaitu dalam surat Fathir: 37 yang artinya, “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

Umur manusia tidaklah tanpa batas, dan biasanya ummat nabi Muhammad mendapat jatah usia 60-70 tahun. Rasulullah bersabda, “Umur ummatku antara 60-70. Sedikit yang lebih dari itu.” (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Namun, ada yang Allah wafatkan ketika remaja atau belum mencapai umur 60 tahun. Dan apabila ada orang yang meninggal, hendaknya manusia berdoa dengan, “Innalillahi wa Inna ‘ilaihi rooji’un”, yang artinya sesungguhnya segalanya adalah milik Allah dan akan kembali pada Allah. Manusia yang melafadzkan doa ini hendaknya sadar bahwa kematian juga akan menimpanya dan tak akan pernah terhindar darinya.

Ketika meninggal dan manusia telah memasuki alam kubur, maka akan ada pertanyaan yang dilontarkan padanya.

Allah akan bertanya, “Apa yang kamu sembah” dan “Bagaimana kamu menjawab panggilan Rasul”. Pertanyaan pertama berkaitan dengan ikhlas pada Allah dan pertanyaan kedua berkaitan dengan ittiba’ kepada Rasulullah. Karena pada kenyataannya banyak manusia yang tidak mengikuti Rasulullah, mereka lebih memilih untuk mengikuti ulama dan ustadz mereka.

Di akhir surat Al-Ahzab, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).

Hal-Hal yang dilalaikan Kaum Muslimin Terkait Waktu

 

Beberapa contoh perbuatuan manusia yang melalaikan waktu, yaitu:

  1. Menghabiskan waktu dengan membaca koran
  2. Sibuk dengan media massa
  3. Banyak berbicara yang tidak bermanfaat
  4. Banyak main handphone. Allah menyebutkan bahwa, “Dunia ini adalah permainan dan senda gurau.
  5. Banyak rekreasi dan bertamasya
  6. Mendengarkan musik dan nasyid. Karena hukum musik adalah haram. Mendengarkan musik tidak membawa manfaat dan tidak bisa menghibur hati, malah musik akan merusak dan melalaikan hati. Satu-satunya penghibur hati adalah Al-Qur’an. Rasulullah bersabda, “Sungguh, nanti ada sebagian ummatku yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik.
  1. Diskusi dan rapat yang tidak bermanfaat dan memakan waktu yang lama
  2. Membaca buku yang tidak bermanfaat
  3. Banyak tidur
  4. Banyak menonton TV, sinetron, dan pertandingan bola. Hal ini bisa berdampak pada terlupakannya aqidah wala’ dan bara’. Wala’ adalah pemuliaan penghormatan dan selalu ingin bersama yang dicintainya baik lahir maupun batin. Sedangkan Bara’ adalah permusuhan dan menjauhkan diri. Karena pada kenyataannya, hal itu menjadi terbalik yaitu manusia menjadi wala’ atau menyebabkan cinta pada orang kafir.
  5. Sibuk dengan hal-hal yang baru
  6. Banyak keluar rumah
  7. Sebagian waktu dihabiskan untuk bekerja. Bekerja adalah sesuatu yang wajib, yaitu mencari nafkah untuk diri dan keluarganya, tapi tidak boleh berlebihan yaitu bekerja sampai belasan jam dalam sehari.
  8. Begadang
  9. Melakukan acara bid’ah dan acara yang tidak bermanfaat. Karena acara bid’ah ini banyak mudhorotnya, yaitu antara lain menghabiskan waktu, menghabiskan uang, membuat fisik letih, dan amalnya tertolak. Di sisi lain Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mengadakan sesuatu yang baru, maka tertolak.

Hal yang Membantu dalam Mengefisienkan Waktu

 

  1. Sadar Akan Pentingnya Waktu

 

Dalam Q.S Al-Mu’minun ayat 112-114 yang artinya, “Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.”

 

Dalam Q.S Thaha ayat 104, Allah berfirman yang artinya, “Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja.

Dalam surat lain Allah juga berfirman, “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (Q.S An-Naazi’aat:46)

Dalil di atas merupakan bukti bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara atau singkat. Waktu di dunia hanya sebatas sehari atau setengah hari di akhirat. Karena itu, jangan sia-siakan waktu tanpa adanya ketaatan di dalamnya.

Janganlah kita seperti orang-orang kafir yang hidupnya hanya bersenang-senang. Bahkan Allah mengumpamakan orang kafir seperti binatang ternak. Allah berfirman yang artinya, “Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka Makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad:12)

Selanjutnya, orang-orang kafir itu akan menyesal dengan apa yang telah dilalaikannya. Karena pada dasarnya orang kafir mempunyai hati, penglihatan, dan pendengaran tetapi mereka tidak menggunakan dengan benar. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 179 yaitu, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Penyesalan orang-orang kafir yang tiada pernah berguna juga telah ditulis dalam surat Al-Mu’minun ayat 99-100 yang artinya, “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.

Q.S As-Sajdah ayat 12 juga menceritakan tentang penyesalan dan keinginan orang kafir untuk kembali pada dunia, yaitu “Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.”

Allah juga berfirman dalam surat Al-An’am ayat 27-28 yang artinya, “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.

Sedangkan penyesalan tidaklah mendatangkan manfaat sama sekali. Meskipun kita berjanji untuk berbuat baik setelah kematian kita. Karena itu, ketika Allah masih memberi kita ruh maka lakukan amal sholeh dan berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Diantara hal yang bisa melalaikan manusia yaitu harta, anak, dan isteri. Dan Allah telah memperingatkan manusia tentangnya, yaitu seperti firman-Nya dalam surat Al-Munafiqun ayat 9-10 yang artinya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

Maka itu, selagi kita masih memiliki tubuh yang sehat, maka gunakan waktu dengan baik. Karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa berputar kembali. Hanya penyesalan lah yang akan tersisa pada akhirnya bila manusia tidak bisa memanfaatkan kedua hal tersebut. Dan pada akhirnya, manusia lah yang menjadi pihak yang tertipu. Rasulullah bersabda, “Ada dua nikmat yang manusia tertipu dengannya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”

Mari kita dengarkan perkataan Ibnu Jauzi, “Seseorang bisa saja sehat tapi ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan pekerjaannya. Atau ia memiliki waktu luang tapi tidak sehat. Jika keduanya berkumpul (sehat dan waktu luang) lalu ia bermalas-malasan untuk melakukan ketaatan, maka dialah orang yang tertipu. Siapa yang menggunakan waktu luang dan sehatnya untuk taat kepada Allah, maka ia adalah orang yang sukses. Tapi siapa yang menggunakannya dalam maksiat kepada Allah, maka ia adalah orang yang tertipu. Karena setelah waktu luang akan datang kesibukan dan setelah sehat akan datang sakit.

Rasulullah juga bersabda, “Jadilah kamu di dunia ini bagai orang asing dan orang yang dalam perjalanan. Persiapkan dirimu untuk menjaadi penghuni kubur.” Dan Ibnu Umar berkata, “Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu pagi. Dan jika engkau berada di pagi hari, maka janganlah menunggu waktu sore. Pergunakan waktu sehatmy sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.

Dalam hadits lain Rasulullah menceritakan, “Aku ini di dunia seperti naik kendaraan dalam perjalanan. Kemudian aku berteduh di bawah pohon.

Perhatikan kalimat “Kemudian aku berteduh di bawah pohon”. Kita semua tahu bahwa orang yang berteduh hanyalah menggunakan waktu yang sebentar, tidak lama. Ini menggambarkan bahwa manusia hidup di dunia juga adalah sementara dan tidak selamanya. Sedangkan orang yang sedang dalam perjalanan, biasanya membutuhkan bekal. Begitu juga dengan perjalanan manusia di bumi ini. Manusia membutuhkan bekal yang cukup agar mereka bisa sampai di akhirat dengan kemenangan di tangan.

Allah juga berfirman mengenai bekal di dunia, yaitu “Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kalian kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 198)

Berikut merupakan untaian nasehat dari Imam Nawawi, “Hendaknya seorang penuntut ilmu berkemauan keras untuk belajar ilmu syar’i. Ia selalu dan senantiasa menggunakan waktunya untuk menuntut ilmu baik malam maupun siang, di saat mukim maupun safar. Ia tidak mau sedikit pun waktunya hilang sia-sia dengan tidak memperoleh ilmu. Dan tidak termasuk orang berakal (penuntut ilmu) ketika ia menyia-nyiakan waktu, tidak digunakan menuntut ilmu.

Ibnu Jauzi juga mengatakan, “Sudah seharusnya manusia mengetahui bahwa waktunya amat berharga dan sangat bernilai. Karena itulah ia tidak boleh menyia-nyiakannya sedetik pun selain untuk mendekatkan diri kepada Allah.

  1. Zuhud Terhadap Dunia

 

Zuhud artinya meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Dan zuhud bukan berarti secara total meninggalkan dunia. Zuhud juga berarti meninggalkan apa yang ada di tangan manusia. Contoh zuhud yaitu: memiliki harta yang disedekahkan, bukan harta yang disimpan untuk dinikmati.

Pada dasarnya harta yang tidak digunakan untuk kepentingan agama akan melalaikan manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Q.S At-Takasur, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 “Jibril mendatangiku lalu berkata: “Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.” Kemudian dia berkata:” Wahai Muhammad! Kemulian seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam), dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia.”

Apabila manusia bisa bersikap zuhud, maka manusia tidak akan mengejar dunia tanpa henti. Manusia akan sadar bahwa harta yang dimilikinya adalah milik dan untuk Allah. Sehingga manusia akan ridho apabila mereka tidak menggenggamnya.

  1. Senantiasa Mengingat Kematian

 

Rasulullah bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezetan yaitu kematian.

Rasulullah pernah ditanya, “Siapa mukmin yang paling utama?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” Kemudian ditanya lagi, “Siapa mukmin yang paling cerdas?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian.”

Mengingat kematian juga termasuk di dalamnya mengetahui dan paham tentang pertanyaan kubur dan mengimani nikmat serta adzab kubur.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kubur adalah awal persinggahan menuju akhirat. Apabila ia selamat, maka akan lebih mudah sesudahnya. Apabila tidak selamat, maka sesudahnya akan lebih sulit.

Dengan mengingat kematian, maka manusia akan senantiasa beramal layaknya hari ini adalah hari terakhirnya hidup. Menyadari bahwa bekal untuk kehidupan akhirat belum cukup dan terus disiapkan hingga waktunya tiba. Hal ini agar manusia bisa meninggal dalam keadaan khusnul khotimah (akhir yang baik), bukan su’ul khotimah (akhir yang buruk).

Ada beberapa cara agar manusia meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, yaitu:

  1. Takut pada Allah
  2. Taubat dari semua dosa dan maksiat
  3. Berdoa agar ditetapkan di atas kebenaran dan amal sholeh
  4. Pendek angan-angan
  5. Menjauhkan dari perbuatan dosa dan maksiat
  6. Sabar atas musibah (penyakit, kematian, kehilangan harta)
  7. Husnudzon kepada Allah
  1. Takut Kepada Allah

 

  1. Muhasabah Diri

Allah berfirman dalam Q.S Al-Hasyr ayat 18, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

  1. Berdoa pada Allah agar diberi Taufik Supaya Bisa Menggunakan Waktu dengan Sebaik-baiknya

 

  1. Memupuk Semangat yang Tinggi

 

Seorang muslim itu tidak boleh malas, lemas dan futur. Tapi muslim itu harus selalu semangat agar bisa melakukan amal sholeh dan kebajikan yang banyak.

Allah berfirman dalam Q.S Al-Anbiya ayat 90 yang artinya, “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.

Rasulullah juga bersabda, “Allah itu karim/mulia. Allah mencintai orang yang dermawan. Allah mencintai orang yang berakhlak tinggi. Allah membenci orang yang akhlaknya rendah.”

Selain itu, Rasulullah juga bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih dicintai daripada mukmin yang lemah. Mintalah pertolongan pada Allah dan jangan menyerah.

Diringkas dan ditulis ulang oleh: Aisyah Ummu Abdillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s