PENGARUH METODE MIND MAPPING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN BELAJAR MATA KULIAH EKONOMI DI KELAS PENDIDIKAN AKUNTANSI REGULER 2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1. Latar Belakang Masalah

 

Belajar merupakan suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan yang bersifat relatif konstan.[1] Dalam belajar ada suatu proses pemahaman dan mengingat setiap hal – hal yang baru yang berasal dari pengalaman. Namun, untuk dapat memahami dan mengingat setiap hal itu memerlukan suatu metode atau gaya belajar. Oleh karena itu, setiap mahasiswa biasanya memiliki permasalahan yang sama pada saat menjelang Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS), yaitu bagaimana cara untuk dapat memahami dan mengingat setiap bab dari mata kuliah yang telah disampaikan, bahkan dalam satu mata kuliah ekonomi mahasiswa harus dapat mempelajari 8 hingga 10 bab untuk UTS ataupun UAS.

Pada saat seperti ini, mahasiswa menggunakan berbagai metode belajar sehingga hasil UTS dan UAS nya tidak mengecewakan. Ada yang lebih memilih untuk membaca secara kontekstual atu dengan cara menjawab pertanyaan – pertanyaan yaitu dengan kecenderungan belajar visual, ada yang lebih suka mendengarkan yaitu kecenderungan belajar auditorial dan ada juga yang lebih senang mempraktekkan secara langsung misalkan dengan mengajarkan kembali kepada orang lain yaitu kecenderungan belajar kinestetis. Metode belajar yang digunakan mahasiswa disesuaikan dengan masalah belajarnya masing-masing.

Metode  belajar yang digunakan mahasiswa seharusnya dapat membantunya untuk dapat mengingat setiap bab dalam mata kuliah dengan baik. Saat ini banyak mahasiswa yang menggunakan metode belajar dengan cara mencatat. Namun mereka masih membuat catatan tradisional dalam bentuk tulisan linier panjang yang mencakup seluruh isi materi pelajaran sehingga catatan terlihat sangat monoton, membosankan dan berlembar- lembar kertas yang harus dibuka. Mencatat dengan cara ini terkadang juga mempunyai pengaruh buruk yaitu dapat menghilangkan topik -topik utama yang penting dari materi.

Mencatat hanya menggunakan sistem kerja otak kanan, yaitu yang berkaitan dengan urutan, rangkaian dan bilangan, tanpa imajinasi, asosiasi, pembesaran, keanehan, humor , warna, ritme, rasa, seksualitas dan sensualitas. Sehingga untuk membuat catatan yang baik perlu merubah tradisi itu dengan membuat kedua otak disertai sistem ingatan (Buzzan, 2002: 168).  Cara yang paling mudah untuk memasukan informasi kedalam otak dan untuk kembali mengambil informasi dari dalam otak adalah dengan Pemetaan masalah atau Peta pikiran yang sering disebut  Mind mapping.

Mind mapping atau peta pikiran menggunakan pengingat-pengingat visual dan sensorik dalam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan, seperti peta jalan yang digunakan untuk belajar, mengorganisasikan dan merencanakan, sehingga dapat membangkitkan ide-ide orisinil dan memicu ingatan dengan mudah.[2]

Mind mapping merupakan bentuk catatan yang tidak monoton karena Mind mapping memadukan fungsi kerja otak secara bersamaan dan saling berkaitan satu sama lain sehingga terjadi keseimbangan kerja kedua belahan otak. Otak menerima informasi berupa gambar, simbol, citra, musik dan lain lain yang berhubungan dengan fungsi kerja otak kanan. Metode ini sebenarnya sudah tidak asing lagi di telinga mahasiswa, namun hanya sebagian kecil mahasiswa yang menggunakan metode ini, padahal dengan menggunakan Mind mapping, Mahasiswa mampu membuat materi kuliah terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari, dengan metode ini mahasiswa dapat mengingat setiap bab dalam mata kuliah dengan lebih mudah.

Berdasarkan latar belakang dari permasalahan ini, kami akan membahas mengenai metode Mind mapping, bagaimana cara menggunakannya, apa saja manfaatnya dan apa pengaruhnya terhadap hasil belajar mahasiswa di kelas pendidikan akuntansi reguler 2012.

 

2. Perumusan Masalah

 

Dalam pembahasan mengenai metode belajar mahasiswa ada banyak masalah yang akan dirumuskan yaitu :

  1. Apa saja permasalahan yang dihadapi mahasiswa dalam belajar?
  2. Apa saja metode yang digunakan mahasiswa dalam belajar?
  3. Apa yang dimaksud dengan metode belajar Mind mapping?
  4. Bagaimana cara menggunakan metode belajar Mind mapping?
  5. Apakah metode Mind mapping membantu mahasiswa dalam mengingat mata pelajaran?
  6. Apakah penggunaan metode Mind mapping berpengaruh terhadap hasil belajar mahasiswa?

 

3. Pembatasan Masalah

 

            Dalam menyusun makalah ini kami memilih Mind mapping sebagai metode belajar pembelajaran yang efektif, karena dengan Mind mapping mahasiswa dapat memusatkan perhatiannya yaitu berkonsentrasi pada gagasan – gagasannya. Selain itu, belajar dengan cara ini sangat menyenangkan karena membuat Mind mapping membutuhkan imajinasi dan kreativitas tidak terbatas. Dan Mind mapping dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa serta memberikan catatan tinjauan ulang yang sangat berarti. Sedangkan sampel yang diambil dalam penelitian makalah ini yaitu  mahasiswa Universitas Negeri Jakarta pendidikan akuntansi reguler 2012.

 

4. Tujuan Makalah

 

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :

  1. Mengetahui masalah belajar yang dihadapi mahasiswa
  2. Mengetahui metode –metode belajar yang biasa digunakan mahasiswa.
  3. Memahami metode belajar Mind mapping serta pengaruhnya bagi tingkat pemahaman mahasiswa.

 

5. Metode Penelitian

 

Metode penelitian yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode deskriptif yaitu dengan mendeskripsikan dengan akurat mengenai fakta dan sifat populasi. Populasi yang diteliti oleh penulis adalah mahasiswa Universitas Negeri Jakarta pendidikan akuntansi reguler 2012.

 

6. Teknik Pengumpulan Data

 

Teknik yang digunakan penulis dalam proses penyusunan makalah yaitu:

  1. Teknik Kepustakaan

Teknik yang kami gunakan untuk mencari  data dan teori – teori yang berkaitan dengan masalah – masalah yang akan kami kaji di dalam makalah, sumber – sumber bacaan kami dapatkan dari perpustakaan.

  1. Teknik Kuisioner

Teknik yang kami gunakan untuk mengetahui metode – metode belajar apa saja yang digunakan oleh mahasiswa pendidikan akuntansi reguler 2012 dan pemahaman mereka tentang metode Mind mapping.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

1. Pengertian Belajar

 

  1. Menurut buku teks tentang Human Learning, Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui pengalaman, proses stimulus-respon, pembiasaan, peniruan, penghayatan, dan pemahaman.[1]
  2. Menurut Winkel, Belajar adalah semua aktivitas mental atau  psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman.
  3. Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252), Belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya.
  4. Menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, Belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu.

 

2. Masalah Belajar

 

Dalam proses belajar, adakalanya seseorang mengalami hambatan ketika sedang melakukannya. Hambatan atau masalah yang timbul tersebut dapat mengganggu proses belajar. Dan apabila proses belajar  terganggu, maka ilmu pengetahuan yang seharusnya diperoleh akan terhenti dan tidak diterima dengan baik. Oleh karena itu, setiap hambatan dan masalah yang mengganggu proses belajar harus dihilangkan. Tapi, sebelumnya masalah-masalah belajar haru diidentifikasikan terlebih dahulu.

Dari berbagai literatur, ditemukan beberapa masalah dalam belajar yaitu sebagai berikut:

 

  1. Masalah Menelaah Diktat Mata Kuliah

Masalah ini berkaitan dengan diktat mata kuliah yang dibaca oleh mahasiswa[2]. Membaca adalah salah satu sumber belajar yang dapat dilakukan. Dengan membaca diktat mata kuliah, maka mahasiswa akan mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan. Namun sayangnya, terkadang mahasiswa sulit memahami wacana yang ada dalam diktat mata kuliah tersebut. Biasanya, kesulitan pemahaman tersebut dikarenakan adanya sebuah kata atau kalimat yang tidak dimengerti maknanya oleh mahasiswa. Mahasiswa memiliki koleksi kosakata yang masih rendah. Jadi, hal itu menyebabkan kesulitan dalam memahami dan menelaah bacaan. Selain itu, mereka mudah untuk lupa terhadap materi dalam diktat kuliah yang sedang dibacanya.

 

  1. Kejenuhan Belajar

Kejenuhan belajar merupakan suatu kondisi mental seseorang saat mengalami rasa bosan dan lelah sehingga timbul rasa malas, enggan, lesu, dan tidak bergairah untuk melakukan aktivitas belajar[3]. Masalah ini yang sering menimpa setiap mahasiwa. Ada berbagai macam faktor yang menyebabkan kejenuhan belajar, diantaranya metode pembelajaran yang monoton dan pengaturan waktu belajar yang tidak tepat.

Metode pembelajaran yang monoton menyebabkan mahasiswa malas untuk belajar dan sulit memahami mata kuliah. Selain itu, metode yang digunakan tidak sesuai dengan gaya belajar mahasiswa tersebut. Adapun waktu belajar dapat mempengaruhi kejenuhan apabila mahasiswa mendominasi waktu belajarnya dengan jangka waktu yang sangat panjang. Sehingga timbullah kejenuhan tersebut. Hal ini sejalan dengan Hukum Gossen yang menyatakan mengenai hukum tambahan utilitas yang semakin berkurang (the law of diminishing marginal utility)[4]. Artinya jika seseorang menggunakan waktu yang terlalu banyak untuk mempelajari suatu hal dalam satu waktu, maka akhirnya mereka akan menemukan titik kebosanan dan kejenuhan, sehingga mereka enggan untuk melakukan hal yang sama lagi.

 

  1. Enggan Mengkaji Ulang Materi

Terkadang masalah belajar ditemukan pada saat seseorang yang enggan untuk mengkaji ulang materi yang telah dipelajari[5]. Dia hanya mengandalkan ingatan pada saat belajar pertama kali.  Padahal  ingatan akan semakin menghilang apabila tidak dikaji kembali. Oleh karena itu, seseorang yang belajar tanpa mengkajinya kembali biasanya hanya memiliki ingatan jangka pendek.

 

3. Metode Belajar

Setiap siswa memiliki gaya belajar sendiri. Bobbi Deporter (1992) menyebutkan hal itu sebagai unsur modalitas belajar. Menurutnya ada tiga belajar pada tiap diri siswa dimana tiap orang memiliki kecenderungan terhadap salah satunya. Ketiga hal itu adalah visual, auditorial, dan kinestetis. Siswa yang memiliki kecenderungan visual akan cenderung belajar dengan cara melihat. Siswa dengan kecenderungan auditorial akan lebih tertarik untuk belajar dengan mendengarkan suara-suara. Sementara siswa dengan karakter kinestetis akan lebih tertarik untuk praktek dengan melakukan suatu kegiatan atau menyentuh secara langsung.

  1. Visual yaitu Cara manusia menerima informasi dengan indera penglihatan yang lebih dominan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktifnya indera tersebut. Pada tipe ini, siswa mudah mencerna informasi/ pelajaran yang disampaikan melalui pendekatan demonstrasi, model, gambar/ chart, atauCD pembelajaran. Pada tipe ini, siswa membayangkan terlebih dahulu pada pikirannya setiap informasi yang ia terima. Kemudian, setelah gambaran tersebut ia dapatkan, barulah informasi bisa ia yakini dan tertanam di memori jangka panjang.
  2. Auditori yaitu cara manusia menerima informasi dengan indera pendengaran yang lebih dominan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktifnya indera tersebut. Pada tipe ini, siswa mudah mencerna informasi/ pelajaran yang disampaikan oleh guru melalui pendekatan ceramah ekspositori, dimana siswa mendengarkan dengan seksama, kalimat yang diucapkan oleh guru. Selain itu, siswa yang memilii tipe auditori, lebih memilih untuk berdiskusi ketimbang membaca dan merasakan sendiri pelajaran yang sedang berlangsung.
  3. Kinestetik yaitu cara manusia menerima informasi dengan indera penerima rangsang gerak, melibatkan banyak indera dan segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan motorik tertentu. Pada tipe ini, siswa mudah mencerna informasi/ pelajaran yang disampaikan melalui pendekatan praktikum, CD pembelajaran – interaktif, role – model, dan pendekatan lain supaya siswa mengalaminya sendiri, terjun secara langsung, atau pendekatan yang membutuhkan lebih banyak indera yang aktif (penglihatan, pendengaran, rasa, sentuhan, rabaan, dan tepukan).

 

Belajar itu ternyata sangat kompleks. Apa yang dipelajari bermacam-macam. Ada bedanya belajar fakta atau informasi, lain belajar memecahkan masalah, lain pula mempelajari nilai-nilai. Tak ada satu teori belajar yang dapat mencakup segala macam jenis belajar. Banyak macam teori belajar  seperti teori ilmu jiwa atau daya atau mental disiplin, teori S-R yang behavioristic, teori Gestalt atau teori lapangan dan lain-lain dan belum ada teori belajar yang dapat mempertemukannya. [6]

  1. Teori disiplin Mental

Teori ini beranggapan bahwa “otak” manusia terdiri atas sejumlah “Faculties” atau daya daya, tiap daya mempunyai fungsi tertentu, ada daya ingat, daya fikir, daya tanggap, daya fantasi, dan lain-lain. Tujuan dari pendidikan itu adalah memperkuat daya daya tersebut dan ini di lakukan dengan latihan untuk mendisiplinnya. Misalnya daya ingat dapat di latih dengan menghafal nama-nama kota, nama nama pahlawan, tahun tahun sejarah, kota kota asing, dsb. Daya fikir di latih dengan menghadapkan anak dengan berbagai soal, makin sulit makin baik, karena nilai latihannya makin tinggi, begitu pula untuk daya daya yang lain. [7] Akan tetapi yang penting dalam hal ini bukanlah penguasaan atas bahan pelajaran melainkan dari pengasuhnya atas latihan daya daya tertentu. Biarlah bahan pelajaran itu di lupakan sama sekali. Tapi hasil latihannya akan tetap dapat digunakan.

  1. Teori Asosiasi

Dari semua teori belajar lainnya, barangkali teori inilah yang paling banyak diterapkan di sekolah. Bila sekolah di pandang sebagai tempat memperoleh pengetahuan, maka metode yang paling ampuh ialah metode S-R yaitu menghubungkan stimulus dan respon. Teori ini manusia di pandang sebagai kumpulan S-R (stimulus-respon) yang masing masing bersifat spesifik. Tiap stimulus memerlukan respon tertentu. Makin banyak S-R yang dimiliki seseorang, makin mampu ia menghadapi hidupnya. Teori belajar ini bersifat mekanistis, karena menggunakan latihan dan ulangan untuk mempererat asosiasi antara stimulus dan respon. Teori ini tidak begitu mementingkan perbedaan individual. Bahan pelajaran jelas lebih dahulu ditentukan. Jawaban atas pertanyaan jelas ditetapkan. Kebebasan berfikir kurang dikembangkan. Motivasi juga di kontrol dari luar melalui reinforcement, misalnya berupa pujian dan hukuman.
Menurut Thorndike, dasar dari belajar itu adalah asosiasi antara kesan panca indera (Sense impresion) dengan implus untuk bertindak (Implus to action). Dengan kata lain, belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, antara aksi dan reaksi. Antara stimulus dan respon ini akan terjadi hubungan yang sangat erat kalau sering dilatih. Berkat latihan yang terus menerus, hubungan antara stimulus dan respon itu menjadi terbiasa, otomatis. Teori ini berbeda dengan teori disiplin mental, pada teori ini asosiasi ini transfer sangat terbatas. Teori ini ingin menjadikan proses belajar bersifat scientific atau ilmiah dan membentuk kelakuan manusia secara sistimatis dan terkontrol. Adapun tokoh yang sangat mempengaruhi aliran ini ini ialah Ivan P. Pavlov (1849-1936)

  1. Teori Gestalt, Teori “Lapangan”

Dasar pokok aliran psikologi ini pertama kalinya di rumuskan Max WARTHEIMER pada tahun 1912 yang berbunyi “keseluruhan lebih dari jumlah bagian bagiannya”. Teori ini mengutamakan keseluruhan, melihat bagian bagian dalam rangka keseluruhan yang hanya mengandung makna dalam hubungannya dengan bagian bagian lain. Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan adalah lebih urgen dari bagian bagian atau unsur. Sebab keberadaannya keseluruhan itu juga lebih dulu. Sehingga dalam kegiatan belajar bermula pada suatu pengamatan. Pengamatan itu penting di lakukan secara menyeluruh.

Dengan kata lain Teori Belajar Gestalt ini mengandung pengertian “belajar tentang sesuatu secara keseluruhan, belajar unsur unsur setelah keseluruhan”. Kunci dalam Teori Gestalt, adalah “insight” belajar ialah mengembangkan insight pada anak dengan melihat hubungan antar unsur- unsur situasi problematis dan dengan demikian melihat makna baru dalam situasi itu. Belajar bukan sesuatu yang pasti, dalam belajar siswa mempunyai tujuan, mengadakan eksplorasi, menggunakan imajinasi dan bersifat kreatif. Kemudian yang menjadi persoalan dalam hal ini adalah mengenai “insight”. Darimana insight itu diperoleh, dan darimana munculnya insight itu sendiri ? Ada beberapa hal yang melatarbelakangi timbul insight itu, antara lain :

v  Kesanggupan       :Maksudnya kesanggupan atau kemampuan inteligensi individu.

v  Pengalaman          : Karena belajar, berarti akan mendapatkan pengalaman dan pengalaman itu mempermudah munculnya insight.

v  Latihan                 : Dengan memperbanyak latihan akan dapat mempertinggi kesanggupan memperoleh insight, dalam situasi situasi yang bersamaan yang telah di latih.

Trial and eror       : Sering seorang tidak dapat memecahkan suatu masalah, baru setelah mengadakan percobaan, seorang dapat menemukan hubungan berbagai unsur dalam problem itu, sehingga akhirnya menemukan insight.

 

4. Mind mapping

 

Mind Map adalah “alternatif pemikiran keseluruhan otak terhadap pemikiran linear(Mind Map) menggapai ke segala arah dan menangkap berbagai pikiran dari segala sudut.”[8] Menurut Michael Michalko, dalam bukunya Cracking Creativity, mind map akan mengaktifkan seluruh otak,membereskan akal dari kekusutan mental, memungkinkan kita berfokus pada pokok bahasan, membantu menunjukkan hubungan antara bagian–bagian informasi yang saling terpisah, memberi gambaran yang jelas pada keseluruhan dan perincian, memungkinkan kita mengelompokkan konsep dan membandingkannya, mensyaratkan kita untuk memusatkan perhatian pada pokok bahasan yang membantu mengalihkan informasi tentangnya dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.

Pemetaan (bahasa Inggris Mind mapping) adalah yaitu suatu metode untuk memaksimalkan potensi pikiranmanusia dengan menggunakan otak kanan dan otak kirinya secara simultan. Metode ini diperkenalkan oleh Tony Buzan pada tahun 1974, seorang ahli pengembangan potensi manusia dari Inggris.
Upaya Tony Buzan sebenarnya muncul dari pengamatannya dalam bidang perkembangan teknologi komputer pada tahun 1971.Pemetaan Pikiran saat ini sudah dikenal luas di berbagai bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM). Penerapannya mencakup manajemen organisasi, penulisan, pembelajaran, dan pengembangan diri.

Berikut adalah pengertian Mind mapping menurut para ahli :

  1. Caroline Edward mengatakan, metode Mind mapping adalah cara paling efektif dan efisien untuk memasukan, menyimpan dan mengeluarkan data dari atau ke otak. Sistem ini bekerja sesuai cara kerja alami otak kita, sehingga dapat mengoptimalkan seluruh potensi dan kapasitas otak manusia (Caroline Edward: 2009; 64).
  2. Melvin L. Silberman, metode Mind mapping adalah cara kreatif bagi peserta didik secara individual untuk menghasilkan ide-ide, mencatat pelajaran atau merencanakan penelitian baru (Melvin L. Silberman: 2005; 177).
  3. Bobby De Porter, metode Mind mapping (Peta Pikiran) adalah pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan Citra Visual dan grafis lainya untuk membentuk kesan antara otak kiri dan otak kanan yang ikut terlibat sehingga mempermudah memasukkan informasi ke dalam otak.

Dari pemaparan diatas dapat kesimpulan bahwa metode Mind mapping adalah suatu teknik mencatat yang dapat memetakan pikiran yang kreatif dan efektif serta memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak baik belahan otak kanan atau belahan otak kiri yang terdapat didalam diri seseorang (Bobby De Porter, Mike Hernacki: 2003; 153).

Dengan menggunakan metode Mind mapping dapat menghasilkan catatan yang memberikan banyak informasi dalam satu halaman. Sehingga dengan metode Mind mapping daftar informasi yang panjang bisa dialihkan menjadi petakan yang berwarna-warni, sangat teratur dan mudah diingat yang selaras dengan cara kerja alami otak.

Tony Buzan mengusulkan menggunakan struktur dasar Pemetaan Pikiran sebagai berikut :

  • Mulai dari tengah dengan gambar Tema, gunakan minimal 3 warna.
  • Gunakan gambar, simbol, kode, dan dimensi diseluruh Peta Pikiran yang dibuat.
  • Pilih kata kunci dan tulis dengan huruf besar atau kecil .
  • Tiap kata/gambar harus sendiri dan mempunyai garis sendiri.
  • Garis-garis itu saling dikaitkan, mulai dari tengah yaitu gambar Tema Utama. Garis bagian tengah tebal, organis, dan mengalir dari pusat keluar, menjulur seperti akar, atau pancaran cahaya.
  • Buat garis sama panjangnya dengan gambar/kata.
  • Gunakan warna – kode rahasia sendiri di peta pikiran yang dibuat.
  • Kembangkan gaya penuturan, penekanan tertentu, dan penampilan khas di Peta Pikiran yang dibuat. Jadi peta pikiran setiap orang tidak harus sama, meskipun tema yang dibahas sama.
  • Gunakan kaidahasosiasi di peta pikiran yang dibuat.
  • Biarkan peta pikiran itu jelas, menggunakan hirarki yang runtun, urutan yang jelas dengan jangkauan sampai ke cabang-cabang paling ujung.

Dengan cara yang lebih bebas, warna-warni, dan gambar, pemetaan pikiran menjadi berbeda dengan metode curah gagasan yang sudah dikenal luas. Hasilnya bisa mencengangkan karena dapat menemukan solusi inovatif untuk suatu Tema Utama yang menjadi fokus perhatian. Selain itu, pemetaan pikiran juga dapat mengidentifikasi masalah di bagian sub-tema yang disusun oleh kata kunci hasil curah gagasan.

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

1. Tinjauan Mengenai Masalah Belajar Mahasiswa

 

Mahasiswa merupakan status yang disandang oleh seseorang karena hubungannya dengan perguruan tinggi yang diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, intelektual mempunyai arti cerdas, berakal, berpikiran jernih yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Jadi artinya setiap proses belajar yang dilakukan oleh seseorang, akan mendatangkan pengetahuan bagi dirinya. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Reber (Muhibbin Syah, 1995:90) bahwa belajar adalah proses memperoleh pengetahuan[1].

Adapun setiap pengetahuan didapat dengan cara belajar, baik pembelajaran secara formal, non formal, dan informal. Pembelajaran secara formal biasanya dilakukan dalam ruang lingkup pendidikan berjenjang, seperti Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), sampai jenjang universitas. Sedangkan pembelajaran non formal biasanya berupa kursus, kelompok belajar, maupun pelatihan. Dimana pendidikan non formal ini menurut The South East Asian Ministery of Education Organization (SEAMEO, 1971) berarti setiap upaya pendidikan yang di dalamnya terdapat komunikasi terarah dan teratur, yang diselenggarakan di luar pendidikan formal[2]. Adapun pembelajaran informal berpusat pada keluarga dan lingkungan kegiatan belajar secara mandiri.

Setiap subsistem pembelajaran tersebut mempunyai peran tersendiri sesuai dengan substansinya. Selain itu, ketiganya saling berkaitan dan menunjang satu sama lain. Hal ini berarti pengetahuan yang dimiliki seseorang akan bertambah luas apabila dia melakukan pendidikan secara informal, dan ditunjang oleh pendidikan formalnya. Sebaliknya, pendidikan formal pun akan lebih bermanfaat bila diimbangi dengan praktik atau realita pada pendidikan informal. Namun, pembelajaran yang paling banyak mendapatkan sorotan publik adalah pembelajaran formal.

Pembelajaran formal pada jenjang perguruan tinggi tidak berbeda jauh dengan jenjang lainnya. Hanya saja, pembelajaran disini sudah mengarah pada pembelajaran dengan kedewasaan. Mahasiswa yang pada umumnya berumur minimal 18 tahun sudah memasuki masa remaja akhir. Sesuai dengan pendapat Elizabeth B. Hurlock dalam Developmental Psychology (1968) yang menyatakan bahwa fase remaja akhir terjadi pada rentang usia 18-21 tahun[3].

Yang mana pada usia ini, manusia lebih bertanggung jawab dan mampu bersikap dewasa. Karena pada fase remaja akhir, perkembangan telah mencapai keseimbangan fungsi fisiologis yang berkembang secara positif sehingga mampu bertingkah laku sesuai dengan tuntutan sosial, moral, serta intelektual[4]. Begitu pula dalam proses pembelajaran, mereka telah menyadari arti penting belajar dan mengetahui cara-cara belajar efektif. Oleh karena itulah, gaya belajar mahasiswa dapat dikatakan sebagai pembelajaran dengan kedewasaan.

Pada dasarnya, mahasiswa akan lebih mudah memahami ilmu pengetahuan yang didapatkannya. Karena selain faktor kematangan berfikir, mahasiswa juga dianggap memiliki banyak pengalaman. Dimana pengalaman ini merupakan salah satu sumber belajar yang dapat mempermudah pemahaman dalam belajar. Tapi di sisi lain, terkadang terdapat beberapa masalah yang dialami oleh mahasiswa ketika belajar, sehingga hal ini mempengaruhi pemahaman ilmu pengetahuan yang sedang dipelajarinya.

Berdasarkan kesesuaian antara landasan teori yang telah penulis kemukakan di atas dan data penelitian yang telah kami lakukan, maka penulis menyadari masalah belajar yang dihadapi oleh mahasiswa. Data penelitian yang kami peroleh melalui kuisioner menunjukkan bahwa 100% mahasiswa pernah mengalami masalah dalam belajar. Terdapat berbagai macam masalah yang mereka hadapi.

Persentase masalah belajar terbesar yang dihadapi mahasiswa adalah kesulitan dalam memahami materi karena terdapat kalimat dan kosakata yang tidak mereka pahami, yaitu sebesar 90,9%. Ketidakpahaman mahasiswa terhadap kalimat tersebut, disebabkan oleh rendahnya kosakata yang dimiliki. Biasanya  kosakata yang rendah ini dipengaruhi oleh kebiasaan dan minat mahasiswa yang jarang membaca. Berdasarkan data dari UNESCO (Jakarta –Poskotanews.com) pada 2012 melaporkan bahwa indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca[5].

Rendahnya minat membaca dan kebiasaan masyarakat Indonesia, khususnya mahasiswa menyebabkan pemahaman mahasiswa terhadap suatu wacana pun akan rendah pula. Oleh karena itu, kebiasaan mahasiswa untuk membaca harus ditingkatkan. Minat baca yang rendah bisa disebabkan oleh monotonnya layout dan tata letak buku yang dibaca oleh mahasiswa. Sehingga mahasiswa tidak tertarik dan enggan untuk membaca. Dan untuk mengatasi hal ini, maka diperlukan visualisasi yang lebih indah sehingga menarik minat membaca. Hal ini bisa diterapkan dalam metode pembelajaran yang digunakan mahasiswa dalam belajar, seperti metode mind mapping.

Selanjutnya persentase masalah belajar mahasiswa sebesar  90,9% disebabkan oeh rasa malas mahasiswa untuk belajar. Biasanya mahasiswa akan semangat untuk belajar ketika ada tugas yang diberikan oleh dosen atau mereka akan menghadapi ujian serta kuis. Selain itu, mahasiswa akan intens dalam belajar ketika mereka sangat tidak memahami mata kuliah yang telah dipelajari. Adapun bila tidak ada alasan tersebut, maka mahasiswa enggan untuk belajar dan lebih memilih untuk mengerjakan pekerjaan lain.

Dan masalah belajar yang lain disebabkan oleh intensitas yang rendah dalam mengkaji ulang materi yang telah dipelajari, yaitu sebesar 72,73%. Mahasiswa lebih suka bertahan pada kesempatan pertama mereka dalam belajar. Adapun selanjutnya, mahasiswa enggan mengulang pengkajian materi. Hal ini menyebabkan ingatan mahasiswa terhadap materi hanya dalam berjangka pendek. Padahal pemahaman materi dapat tercapai dengan ingatan materi dalam jangka panjang. Dan hal tersebut bisa terjadi apabila mahasiswa sering mengkaji ulang materi yang telah dipelajarinya.

Adapun persentase terbesar selanjutnya yaitu sebesar 63,64% disebabkan oleh kurangnya motivasi eksternal yang didapatkan oleh mahasiswa. Motivasi eksternal artinya dorongan yang berasal dari pihak luar. Motivasi eksternal ini dapat berupa imbalan (achievement) maupun hukuman (punishment)[6]. Untuk masalah belajar ini, motivasi eksternal mahasiswa dapat berasal dorongan dari dosen, teman, dan keluarganya. Selain itu, motivasi eksternal bisa dimunculkan dengan penggunaan media dan metode belajar yang efektif dan menyenangkan dalam proses pembelajarannya.

Selanjutnya masalah belajar pada mahasiswa disebabkan oleh kejenuhan dalam belajar, yaitu dengan persentase sebesar 54,55%. Kejenuhan belajar ini dapat terjadi apabila mahasiswa selalu menggunakan metode dan media pembelajaran yang sama. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh ketidaksesuaian antara metode pembelajaran dengan gaya belajar yang dimiliki oleh mahasiswa. Setiap mahasiswa memiliki gaya belajar yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, penggunaan metode pembelajaran dan cara belajar mahasiswa harus disesuaikan dengan gaya belajar yang dimilikinya masing-masing. Kejenuhan juga dapat terjadi apabila mahasiswa menggunakan waktu yang sangat lama untuk mengkaji satu materi mata kuliah. Karena pada dasarnya, setiap kejadian yang dilakukan secara berulang dan terus-menerus serta mendominasi tanpa ada jeda, maka akan menimbulkan kejenuhan. Hal ini berlandaskan teori mengenai tambahan utilitas yang semakin berkurang dari Gossen.

Dan masalah belajar selanjutnya yang dihadapi oleh mahasiswa yaitu memiliki persentase sebesar 36,36% dan 18,18%. Persentase sebesar 36,36% disebabkan oleh rendahnya motivasi internal mahasiswa. Dan persentase sebesar 18,18% disebabkan oleh masih rendahnya fasilitas yang dapat mendukung proses belajar mahasiswa. Fasilitas ini dapat berupa laptop, layanan internet, LCD, sumber-sumber belajar, maupun printer.

 

2. Tinjauan Mengenai Gaya Belajar Mahasiswa

 

Manusia adalah makhluk sosial, yaitu yang memerlukan interaksi dengan orang lain serta lingkungannya. Hal itu karena setiap manusia memiliki keterbatasan, baik itu secara fisik, material, dan psikis. Oleh karena itu, supaya manusia dapat bertahan hidup, mereka saling bergantung dan membantusatu sama lainnya. Tapi di sisi lain, manusia dilahirkan sebagai seorang individu yang unik, yang sampai hari ini tiada duanya[7]. Keunikan tersebut meliputi perbedaan karakteristik, sifat, keinginan, motivasi, minat, dan bakat.

Begitu pula dalam proses belajar, setiap mahasiswa mempunyai karakteristik dan gaya belajar yang berbeda. Gaya belajar tersebut akan mempengaruhi metode pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar. Kesesuaian antara gaya belajar dan pemilihan alternatif metode pembelajaran, akan memengaruhi kesuksesan dan perolehan hasil belajar yang maksimal.

Seperti yang telah dicantumkan pada bab II mengenai landasan teori, ada tiga macam gaya belajar yang biasanya merupakan karakteristik setiap orang. Dan berdasarkan data penelitian yang penulis lakukan, telah diketahui persentase dari masing-masing gaya belajar yang dimiliki oleh setiap mahasiswa.

Gaya belajar mahasiswa yang mendominasi adalah gaya belajar secara kinetik, yaitu dengan persentase sebesar 66,67%. Belajar kinetik yaitu kemampuan menyerap informasi dan belajar melalui gerakan[8]. Biasanya belajar kinetik ini didominasi pada disiplin ilmu seperti olahraga dan seni, yang mana dalam prakteknya lebih menggunakan gerakan fisik. Tapi, dalam disiplin ilmu yang lain seperti ekonomi, belajar kinetik juga dapat diaplikasikan. Pengaplikasian belajar kinetik tersebut tercermin dalam cara belajar mahasiswa yang lebih suka mencatat. Mencatat merupakan suatu gerakan fisik yang berfokus pada organ bagian tangan.

Dalam perkuliahan di kelas, mahasiswa sering terlihat mencatat dalam buku tulisnya tentang apa yang sedang dijelaskan oleh dosen. Selain itu, saat ini masih terdapat dosen yang memberikan tugas pada mahasiswanya untuk membuat resume dalam bab tertentu. Jadi, gaya belajar mahasiswa pun ikut terpengaruhi menjadi belajar secara kinetik. Di sisi lain, belajar kinetik dengan teknik mencacat dapat membantu mahasiswa untuk mengingat materi yang telah disampaikan. Selain materi yang disampaikan didengarkan dengan seksama, materi juga lebih baik dicatat. Karena pada dasarnya, manusia cenderung mempunyai sifat lupa. Untuk mencegah mahasiswa lupa terhadap materi, maka harus dibantu dengan gaya belajar kinetik yaitu mencatat.

Selanjutnya, persentase sebesar 58,33 % diduduki oleh mahasiswa dengan gaya belajar visual. Visual adalah gaya belajar dengan menyerap informasi melalui gambarm, diagram, peta, dan lainnya. Tipe mahasiswa dengan gaya belajar visual, lebih suka melihat dan belajar melalui sebuah gambar. Baginya, mencatat tidak terlalu efektif karena mereka lebih sulit untuk belajar dengan menggunakan kata-kata atau verbal. Tipe mahasiswa seperti itu, lebih cocok belajar dengan menggunakan metode mind mapping. Metode ini hampir sama dengan mencatat, hanya saja mind mapping  menggabungkan fungsi otak kanan dan otak kiri. Hal itu menyebabkan pembelajaran dapat berlangung lebih efektif dan efisien.

Dan gaya belajar dengan persentase terendah adalah audio-visual, yaitu dengan persentase sebesar 33,33%. Mahasiswa dengan gaya belajar ini akan lebih mudah menyerap informasi dengan cara mendengar. Biasanya tipe seperti ini akan cepat memahami informasi yang disampaikan dan langsung dapat mengerjakan tugas-tugas terkait bahasan materi yang diberikan kepada mereka.

 

3. Tinjauan Mengenai Metode Mind Mapping

 

Mind mapping merupakan alternatif pemikiran keseluruhan otak terhadap pemikiran linear(Mind Map), menggapai ke segala arah dan menangkap berbagai pikiran dari segala sudut. Ditemukan pertama kali oleh Tony Buzan. Metode mind mapping hampir sama dengan metode mencatat. Namun ada perbedaannya, mencatat hanya menggunakan fungsi otak kiri. Sedangkan metode mind mapping menggabungkan fungsi otak kanan dan otak kiri. Jadi, ada keseimbangan antara keduanya, sehingga terciptalah keefektifan dan keefisiensian bila digunakan dalam proses belajar.

Roger Wolcott Sperry, dalam penelitiannya tentang peta dasar mental yang dikembangkan tahun 1940, telah menemukan fungsi dan sifat belahan otak manusia[9]. Menurutnya otak terbagi menjadi dua belahan, yaitu kanan dan kiri. Belahan otak kanan lebih bersifat lateral (mengarah ke samping) dan divergen. Sedangkan belahan otak kanan berifat vertikal (mengarah ke atas) dan konvergen. Belahan otak kanan memiliki ciri-ciri yaitu yang bersifat intuitif, holistik, multidimensional, kreativ, dan manusiawi. Adapaun belahan otak mempunyai ciri-ciri yaitu yang bersifat rasional logis, teratur, dan linier[10].

Hanya fungsi otak kiri yang digunakan dalam mencatat. Hal ini menyebabkan kebosanan dan kejenuhan belajar. Oleh sebab itu, metode ini hanya cocok untuk seseorang dengan gaya belajar visual. Materi yang dicatat dapat mudah diingat oleh mereka, tapi mereka akan mengalami kesulitan dalam pengkajian ulang materi. Disini maksudnya, seseorang yang lebih suka mencatat akan mengulang kembali materi dari awal, mengingat kembali, memahami kembali, dan mencari inti materi kembali. Hal tersebut sangat tidak efektif. Karena pada dasarnya, mengkaji ulang materi hanya sebatas memberi tambahan ingatan terhadap materi yang dipelajari, bukan mempelajarinya kembali dari awal.

Kejenuhan juga cenderung terjadi ketika melakukan metode mencatat. Mahasiswa akan merasa lelah saat mencatat ribuan karakter dalam suatu materi mata kuliah. Sehingga mereka sukar untuk melanjutkan kegiatan mencatat, dan juga metode mencatat menghabiskan durasi waktu yang cukup lama dalam pengerjaannya. Selain itu, bentuk kemonotonan catatan juga membuat seseorang terkadang enggan untuk membaca.

Metode mencatat memang dapat meningkatkan daya ingat, tapi hal itu hanya berjangka waktu pendek. Berdasarkan data penelitian yang penulis lakukan pada sampel berjumlah 12 orang, diidentifikasi terdapat sebesar 50% mahasiswa yang mendapatkan daya ingat melalui mencatat. Sedangkan metode mind mapping tercatat sebesar 58,33% dapat meningkatkan daya ingat. Hal ini berarti, terdapat range sebesar 8,33% lebih tinggi pada metode mind mapping dalam peningkatan daya ingat terhadap materi mata kuliah. Jadi dapat disimpulkan bahwa, metode mind mapping menghambilkan daya ingat dengan jangka waktu yang lebih panjang.

Berdasarkan hasil penelitian, semua mahasiswa mengetahui metode mind mapping, yaitu dengan persentase sebesar 100%. Dari jumlah persentase tersebut, hanya sejumlah 75% mahasiswa yang pernah mencoba melakukan pembelajaran dengan cara mind mapping. Hal ini terjadi, karena persentase gaya belajar secara kinetik lebih tinggi daripada gaya belajar secara visual. Pada dasarnya, metode mind mapping dapat digunakan oleh seseorang dengan gaya belajar kinetik maupun visual. Dan kenyataan tersebut, menambah efektifitas mind mapping dalam penggunaan untuk proses belajar.

Tipe mahasiswa dengan gaya belajar kinetik, dapat menggunakan metode mind mapping. Karena metode mind mapping juga merupakan aktivitas gerakan fisik, yaitu organ bagian tangan (sama seperti mencatat). Terlebih lagi, waktu yang digunakan untuk membuat mind mapping lebih sebentar daripada mencatat, jadi mahasiswa tidak akan jenuh untuk melakukannya. Sedangkan tipe mahasiswa dengan gaya belajar visual lebih cocok lagi untuk menggunakan metode ini dalam belajar. Karena dalam mind mapping, ditambahkan gambar-gambar menarik yang dapat merangsang fungsi otak kanan. Jadi, gaya belajar visual dapat dengan mudah memahami apa yang tercatat dan tergambar dalam mind mapping tesebut.

 

4. Tinjauan Mengenai Peran Mind Mapping dalam Belajar

 

Berdasarkan data hasil penelitian yang penulis lakukan, terdapat persentase sebesar 58,33% keefektifan dari metode mind mapping. Efektifitas tesebut yaitu meliputi:

  1. Dapat digunakan oleh mahasiswa dengan gaya belajar kinetik maupun visual.
  2. Daya ingat terhadap materi dapat terjadi dalam jangka waktu yang panjang.
  3. Merupakan penggabungan antara fungi otak kanan dan kiri.
  4. Lebih menghemat waktu dan menghindari kejenuhan dan kebosanan.
  5. Mempermudah proses dalam pengkajian ulang materi mata kuliah.

Selain itu, metode mind mapping merupakan metode yang menarik dan menyenangkan. Hal ini sesuai dengan jumlah persentase sebesar 3,33% yang menyatakan bahwa mind mapping dapat membuat belajar lebih menarik dan menyenangkan. Oleh karena itu, metode mind mapping tergolong dalam metode pembelajaran Quantum Learning, yaitu belajar dengan cara menyenangkan. Dimana apabila mahasiswa sudah merasa senang untuk belajar, maka hal itu dapat menambah motivasi eksternal mahasiswa untuk semangat dalam belajar. Selain itu, pembelajaran yang menyenangkan juga dapat menghindarkan mahasiswa dari rasa malas belajar dan kejenuhan serta kebosanan belajar.

Di sisi lain, metode mind mapping juga dapat mengajarkan dan meningkatkan kreativitas yang dimiliki oleh mahasiswa. Karena metode mind mapping dilakukan dengan menggabungkan fungsi otak kanan dan kiri. Jadi, terdapat keseimbangan antara intelektual rasional dengan kreativitas. Hal ini didukung oleh hasil data penelitian yang mengidentifikasikan bahwa mind mapping dapat meningkatkan kreativitas, yaitu persentase sebesar 50%.

 

PENYAJIAN DATA HASIL PENELITIAN

 1. Penelitian Mengenai Masalah Belajar Pada Mahasiswa

 

Populasi yang penulis ambil yaitu populasi mahasiswa Jurusan Pendidikan Akuntansi Reguler Fakulstas Ekonomi angkatan 2012. Dari 50 populasi mahasiswa di dalam kelas, penulis hanya menggunakan 11 orang sebagai sampel yang digunakan untuk memperoleh data penelitian. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan persentase masalah belajar yang dihadapi mahasiswa:

No

Pernyataan Ya

Tidak

Mahasiswa sering mengalami kesulitan dalam belajar 100 % 0 %
Kesulitan belajar tersebut membuat berkurangnya pemahaman mahasiswa terhadap materi mata kuliah 90,9 % 9.10 %
Masalah belajar yang  mahasiswa alami disebabkan oleh rasa malas untuk belajar 90,9 % 9.10 %
Masalah belajar yang  mahasiswa alami disebabkan oleh fasilitas yang tidak mendukung dalam proses belajar 18,18 % 81,82 %
Masalah belajar yang  mahasiswa alami disebabkan tidak adanya motivsi internal 36,36 % 63,64 %
Masalah belajar yang  mahasiswa alami disebabkan tidak adanya motivasi eksternal 63,64 % 36,36 %
Masalah belajar yang  mahasiswa alami disebabkan oleh kejenuhan dalam belajar (meode dan media pembelajaran yang monoton) 54,55 % 45,45 %
Masalah belajar yang  mahasiswa alami disebabkan saya jarang mengkaji ulang mteri yang telah dipelajari 72,73 % 27,27 %
Masalah belajar yang  mahasiswa alami disebabkan adanya kalimat dan kata yang tidak saya pahami dalam wacana 90,9 % 9.10 %
Mahasiswa terbiasa menggunakan berbagai metode pembelajaran 63,64 % 36,36 %

 

2. Penelitian Mengenai Gaya Belajar Mahasiswa

 

Data yang diambil sebagai sampel adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Akuntansi Reguler angkatan 2012 yang berjumlah 12 mahasiswa. Berikut merupakan tabel hasil data penelitian yang penulis lakukan:

No

                               Pernyataan             Ya

Tidak

Mahasiswa lebih suka belajar dengan gaya belajar visual (melalui gambar) 58,33% 41,67%
Mahasiswa lebih suka belajar dengan gaya belajar kinetik (adanya pergerakan fisik) 66,67% 33,33%
Mahasiswa lebih suka belajar dengan gaya belajar audiovisual (mendengarkan ceramah dosen) 33,33% 66,67%

 

3. Penelitian Mengenai Metode Mind Mapping

 

No

Pernyataan Ya

Tidak

Mengetahui metode mind mapping 100% 0%
Pernah menggunakan metode mind mapping dalam belajar 75% 25%
Metode mind mapping lebih efektif dalam memahami materi mata kuliah 58,33% 41,67%
Mudah mengingat dan memahami mata kuliah dengan menggunakan metode mencatat 50% 50%
Mudah mengingat dan memahami mata kulih dengan menggunakan metode  mind mapping 58,33% 41,67%
Mind mapping  membuat belajar menjadi menarik dan menyenangkan 33,33% 66,67%
Mind mapping  dapat meningkatkan kreativitas 50% 50%
Dengan menggunakan mind mapping, pemahaman mata kuliah dapat berlangsung dalam waktu jangka panjang 33,33% 66,67%

 

BAB IV

PENUTUP

 

Kesimpulan

 

Setiap orang mengalami proses pembelajaran, begitu pula pada mahasiswa. Belajar ditujukan untuk mendapatkan pengetahuan dan perubahan mental yang berlangsung secara terus-menerus. Namun, dalam proses belajar tidak selamanya berjalan dengan lancar. Adakalanya, masalah terjadi dan menghambat proses belajar tersebut. Seperti halnya dengan masalah belajar yang dialami oleh mahasiswa. Dalam menentukan makalah ini, penulis menggunakan populasi mahasiswa Jurusan Pendidikan Akuntansi Reguler Fakultas Ekonomi Univesitas Negeri Jakarta angkatan 2012.

Adapun tujuan dibuatnya makalah ini, adalah untuk mengetahui sejauh mana peran metode mind mapping dalam mengatasi masalah belajar dan meningkatkan pemahaman belajar. Sedangkan metodologi yang penulis gunakan adalah metode penelitian deskriptif, yaitu yang menggunakan kerangka dan landasan teori dari kepustakaan. Kemudian penulis juga menggunakan teknik penelitian dengan menggunakan kuisioner.

Setelah melakukan penelitian dan mengambil data melalui kepustakaan, diidentifikasi beberapa masalah dalam belajar, yaitu: (1) Masalah yang berkaitan dengan penelaahan diktat kuliah, (2) Kejenuhan dan kebosanan dalam belajar, dan (3) Jarangnya mahasiswa mengkaji ulang materi mata kuliah.

Semua masalah belajar tersebut dapat menghambat pembelajaran dan mengurangi pemahaman mengenai pengetahuan dan informasi. Oleh karena itu, diperlukan metode yang tepat untuk digunakan dalam belajar tersebut. Setelah mengidentifikasi gaya dan metode pembelajaran yang telah ada, maka disimpulkan bahwa metode mind mapping memiliki peran yang sangat efektif dalam mengurangi masalah belajar dan meningkatkan pemahaman belajar pada mahasiswa.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Buzan, Tony. 2007. Buku Pintar Mindmap. Jakarta. Gramedia.

Siregar, Evelyn dan Hartini Nara. 2010.Teori Belajar Dan Pembelajaran.Jakarta:UNJ.

DePorter, Bobby dan Mike Hernacki. 2004. Quantum Learning, Bandung.Kaifa.

Nasution.2008. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta. Bumi aksara.

Prayitno. 2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Grasindo

Belajar Cara Belajar. Rubiah Aksah

Hakim, Thursan. Belajar Secara Efektif. Pusaka Swara

Widjajanta, Bambang dan Aristanti Widyaningsih. 2007. Mengasah Kemampuan Ekonomi. Bandung. Citra Praya

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UI. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian II: Pendidikan Disiplin Ilmu. Grasindo

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UI. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian III: Pendidikan Disiplin Ilmu. Grasindo

Chomaira,  Nurul. 2008.Aku Sudah Gede. Sukoharjo. Samudera

Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara Jakarta. 2006. “Jurnal Provitae”. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia

Miftahussalam, Saleh. 2010. Cahaya Nurani-Habis Gelap Terbitlah Terang. Jakarta. PT. Elex Media Komputindo

Semiawan, Conny. 2011. Filsafat Ilmu Lanjutan. Jakarta. Kencana Prenada Media Grup

Sugembog. 2009. Meraih Bintang di Sekolah. Jakarta. PT. Elex Media Komputindo

Diakses pada tanggal 2 Mei 2014 pada http://otaktengahindonesia.com/artikel_mengenal-3-gaya-belajar-anak.html

Diakses pada tanggal 2 Mei 2014 pada http://id.wikipedia.org/wiki/Pemetaan_pikiran.

Diakses pada tanggal 3 Me 2014 pada http://poskotanews.com/2013/09/27/minat-baca-warga-indonesia-sangat-rendah/

 

_____

Footnote:

[1] Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UI. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian III: Pendidikan Disiplin Ilmu. (Grasindo: 2007). Hal 328

[2] Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UI. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian II: Pendidikan Disiplin Ilmu. (Grasindo: 2007). Hal 28

[3] Chomaira,  Nurul. Aku Sudah Gede. (Sukoharjo. Samudera: 2008). Hal 19

[4] Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara Jakarta. “Jurnal Provitae”. (Jakarta. Yayasan Obor Indonesia: 2006). hal 17

[5]http://poskotanews.com/2013/09/27/minat-baca-warga-indonesia-sangat-rendah/

[6] Miftahussalam, Saleh. Cahaya Nurani-Habis Gelap Terbitlah Terang. (Jakarta. PT. Elex Media Komputindo: 2010). Hal 31

[7] Semiawan, Conny. Filsafat Ilmu Lanjutan. (Jakarta. Kencana Prenada Media Grup: 2011),  26

[8] Sugembog. Meraih Bintang di Sekolah. (Jakarta. PT. Elex Media Komputindo: 2009),  62

[9] Semiawan, Conny. Filsafat Ilmu Lanjutan. (Jakarta. Kencana Prenada Media Grup: 2011), 29

[10] Semiawan, Conny. Filsafat Ilmu Lanjutan. (Jakarta. Kencana Prenada Media Grup: 2011), 30

 

[1] Prayitno. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. (Grasindo: 2009) Hal 203

[2] Belajar Cara Belajar. Rubiah Aksah. Hal 39

[3] Hakim, Thursan. Belajar Secara Efektif. (Pusaka Swara). Hal 62

[4] Widjajanta, Bambang dan Aristanti Widyaningsih. Mengasah Kemampuan Ekonomi. (Bandung. Citra Praya: 2007) Hal 27

[5] Belajar Cara Belajar. Rubiah Aksah. Hal 56

[6] Nasution, Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta,Bumi aksara,2008). 57-58.

[7] Ibid.,60.

[8] Buzan,Tony.Buku Pintar Mind Map. (Jakarta,Gramedia,2005).5

[1] Siregar, Evelyn dan Hartini Nara. Teori Belajar Dan Pembelajaran, (Jakarta,UNJ,2010), 5.

[2] DePorter,Bobby dan Mike Hernacki. Quantum Learning, (Bandung,Kaifa,2004), 152.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s