Analisis Kasus Pada Tugas Perkembangan Remaja (Kognitif)

PENDAHULUAN

 

LATAR BELAKANG

Masa remaja merupakan salah satu tahapan dalam kehidupan manusia yang sering digambarkan dengan masa yang paling indah, dan tidak terlupakan karena penuh dengan kegembiraan dan tantangan (Kartini Kartono, 1992). Masa remaja adalah masa peralihan dari anak menuju dewasa (Hurlock, 1993), karena pada fase ini remaja secara fisik telah mengalami perkembangan sebagaimana layaknya orang dewasa. Dan perkembangan fisik ini selanjutnya mengarahkan remaja kepada pembentukan dan pencarian identitas dirinya (Santrock, 1995).

Perkembangan fisik membuat remaja merasa dirinya telah dewasa dan harus mendapat peran yang sama sebagaimana orang dewasa dalam membuat keputusan, menentukan kegiatan, menentukan tempat sekolah dan lain sebagainya. Sementara di sisi lain perkembangan fisik yang telah matang pada remaja tersebut tidak diikuti dengan kematangan emosi, kognitif dan ranah psikologis yang lain. Sehingga para orang dewasa masih menganggap mereka sebagai anak-anak yang membutuhkan pengasuhan bukan dukungan, yang membutuhkan perlindungan bukan bimbingan dan membutuhkan sosialisasi bukan pengarahan.

Kekaburan peran ini menjadikan masa remaja menjadi masa yang penuh dengan goncangan, masa peralihan dan masa pencarian identitas (Hurlock, 1993; Darajad, 1970; Bisri, 1995; Monks, 2002). Hal ini juga identik dengan kata ’pemberontakan’. Dalam masalah psikologi hal itu disebut masa storm and stress karena banyaknya goncangan-goncangan dan perubahan-perubahan yang cukup radikal dari masa sebelumnya (Kartini Kartono, 1992).

Dalam menjalani tahap perkembangan ini, remaja harus melaksanakan tugas-tugas perkembangannya. Tugas perkembangan remaja dapat terhambat apabila goncangan dan perubahan ini tidak dihadapi dengan baik. Walaupun remaja sudah mulai mempersiapkan dirinya untuk mandiri, namun tetap diperlukan bimbingan dan pengarahan agar tugas perkembangannya dapat dilaksanakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita temukan masalah-masalah yang dapat menghambat tugas perkembangan remaja. Diantaranya berupa masalah fisik, sosial, moral, ekonomi, dan kognitif. Contohnya: pelajar yang terlibat dalam tawuran atau remaja yang membolos sekolah untuk bermain dengan temannya. Semua masalah ini harus dicarikan solusi dan diperlukan bimbingan bagi remaja.

Dalam makalah ini, akan dijabarkan mengenai masalah yang menghambat tugas perkembangan remaja. Selain itu juga akan disertai penyebab dan juga alternatif penyelesaian masalahnya. Namun, makalah ini hanya akan fokus dalam membahas masalah kognitif.

TUJUAN

Tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi masalah kognitif yang menghambat tugas perkembangan remaja.
  2. Mengidentifikasi solusi-solusi untuk menyelesaikan masalah kognitif yang timbul dalam tahap perkembangan remaja.
  3. Membantu remaja melaksanakan tugas perkembangannya dengan baik dan memberikan penyelesaian efektif terhadap masalah kognitif yang dihadapi remaja.

RUMUSAN MASALAH

  1. Apa masalah kognitif yang menghambat tugas perkembangan remaja?
  2. Apa faktor yang menyebabkan masalah kognitif tersebut muncul?
  3. Kapankah masalah kognitif remaja timbul?
  4. Bagaimana solusi efektif untuk menghadapi masalah kognitif yang menghambat tugas perkembangan remaja?

ISI

 

PEMBAHASAN

Salah satu tugas perkembangan remaja yang harus dilalui adalah mampu berpikir secara lebih dewasa dan rasional, serta memiliki pertimbangan yang lebih matang dalam menyelasaikan masalah. Mereka harus mampu mengembangkan standar moral dan kognitif yang dapat dijadikan sebagai petunjuk dan menjamin konsistensi dalam membuat keputusan dan bertindak. Oleh karena itu, pada tahap ini cara berpikir konkrit yang ditunjukkan pada masa kanak-kanak sudah ditinggalkan.

Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Jean Piaget mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget merupakan periode terakhir dan tertinggi. Jean Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (Papalia & Olds, 2001).

Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

Keating (Kimmel,1990) berpendapat ada 5 karakteristik cara berfikir yang membedakan dengan stadium sebelumnya yaitu:

  1. Mampu berfikir tentang kemungkinan kemungkinan baik yang telah terjadi maupun kemungkinan yang akan terjadi.
  2. Berfikir dengan hipotesis.
  3. Befikir jauh ke depan, membuat rencana kedepan, dan merencanakan strategis yang tepat.
  4. Metakognisi, adalah suatu proses berfikir tetntang berfikir, mereka mampu mengukur kemampuan diri, pengetahuan, tujuan, serta langkah langkah untuk mancapainya, dangan kata lian meraka mampu merancanakan, membuat suatu keputusan dan mengambil strategi atau alternatif pemecahan masalah.
  5. Berfikir tanpa batas dan bersifat abstrak, misalnya tentang politik, agama atau keyakinan, moral hubungan antar manusia.

Dengan kemampuan-kemampuan tersebut maka remaja semakin yakin akan kemampuannya dalam mengambil keputusannya sendiri dan tidak lagi terlalu tergantung kepada orang lain (Murniati & Beatrix, 2000). Remaja dapat mandiri dalam melaksanakan tugas dan perannya dalam masayarakat. Selain itu, perkembangan kognitif remaja juga dapat dilihat dari partisipasinya dalam bidang politik, ekonomi, dan pendidikan.

Dalam menjalani tahap perkembangan kognitif ini, remaja sering mengalami banyak hambatan atau masalah. Sehingga tugas perkembangannya tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Hambatan tersebut diantaranya konflik yang timbul antara remaja dengan sekolah, orang tua, maupun lingkungan. Selain itu, masih sangat banyak remaja yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Berikut ini beberapa contoh masalah yang menghambat perkembangan kognitif remaja beserta pembahasan penyebab dan solusinya.

CONTOH KASUS :

 

Kasus I

Seorang remaja putri menenggak obat serangga karena tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP. Remaja 15 tahun itu meninggal pada Rabu (10/4/2013) dini hari, setelah dirawat intensif selama 12 jam di RSUD Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Rina putus sekolah sejak setahun lalu karena orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikannya. Dia beberapa kali memprotes dan mengamuk karena tidak disekolahkan ke sekolah menengah seperti tiga kakaknya yang kini duduk di bangku SMP dan SMA.

Orangtua Rina, Hande dan Nasir, merasa tak bisa berbuat banyak untuk memenuhi permintaan Rina. Warga Tondrolima, Kecamatan Matakali, itu hanya berusaha sebisa mungkin menenangkan Rina ketika putri mereka itu mengamuk.

Pada Selasa (9/4/2013), Rina kembali mengamuk dan memprotes orangtuanya yang menurut dia tidak adil karena tidak menyekolahkan dia. Seperti sebelum-sebelumnya, Rina mengancam minum racun serangga. Kedua orangtua Rina tidak menghiraukan ancaman itu. Hande malah pergi ke kebun dan meninggalkan Rina yang masih mengamuk.

Kali ini Rina membuktikan ancamannya minum racun serangga jika orangtuanya tidak mendaftarkan dia ke sekolah seperti teman-teman SD-nya. Rina ditemukan dalam keadaan lemas oleh keluarganya. Mereka langsung melarikannya ke rumah sakit. Namun, setelah 12 jam dirawat, dia mengembuskan napas terakhirnya pada dini hari tadi.

Menurut keluarganya, Rina mengaku sering merasa malu dan minder karena semua temannya bisa mengenyam pendidikan di sekolah umum. Dia pernah didaftarkan di SMP terbuka. Namun, Rina merasa malu karena SMP terbuka itu tidak seperti sekolah umum.

Hande dan Nasir, yang menjadi petani kelapa sawit, mengaku tidak mampu membiayai pendidikan semua anaknya. Mereka memutuskan Rina tidak melanjutkan pendidikan agar kakak-kakaknya bisa menamatkan pendidikan.

Hande tidak menyangka putri keempat dari tujuh bersaudara itu nekat mengakhiri hidup. “Saya bingung dan tidak bisa berbuat banyak. Sebagai orangtua, tentu kami ingin semua anak kami bisa sukses dan berpendidikan. Tapi, karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, ya jadinya seperti ini,” ujar Hande, yang mengaku merasa sangat bersalah.

Jenazah Rina kini sudah dibawa pulang ke rumah keluarga di Dusun Tondrolima, Kecamatan Matakali, Polewali Mandar. Rencananya dia akan dimakamkan siang ini.[1]

Kasus II

Kesal kepada orang tuanya, membuat Angie (15), remaja putri asal kecamatan Cluring Banyuwangi ini kabur dari rumah. Orang tuanya pun kelimpungan. Kasus ini bahkan berimbas pada orang lain.

Informasi menyebutkan, ngie menghilang dari rumah orang tuanya Sabtu (28/1/12) sekitar pukul 14.00 WIB. Karena khawatir hal buruk menimpa anaknya, hal itu dilaporkan pihak keluarga ke Polsek Cluring.

Kini, orang tua Angie dapat bernafas lega lagi. Karena putrinya tersebut berhasil ditemukan oleh polisi. Angie didapati bersama Untung (21), teman laki-lakinya di depan RSUD Genteng, Selasa (31/1/12).

“Sekitar pukul 12.00 WIB tadi, Angie kita dapati bersama temannya berinisial UT,” jelas Kasi Humas Polsek Cluring, Aiptu Eko Laksono, kepada detiksurabaya.com, di kantornya. Selanjutnya baik Angie maupun Untung, langsung diamankan ke Polsek Cluring.[2]

ANALISIS MASALAH

 

Kasus I dan II merupakan salah satu contoh masalah yang menghambat perkembangan kognitif pada remaja. Pada kedua kasus ini, remaja tidak dapat memilih alternatif penyelesaian masalah sekolah dan keluarganya secara tepat. Remaja seharusnya menyelesaikan masalah dengan memikirkan dulu secara teoritis, menganalisa masalahnya dengan mengembangkan penyelesaian memulai berbagai hipotesis yang mungkin ada. Namun dalam keadaan ini, remaja tidak menggunakan kemampuan kognitifnya tersebut dalam menyelesaikan masalah.

Ketidaktepatan pengambilan alternatif penyelesaian pada kasus I dan II menyebabkan akibat yang sangat buruk. Pada kasus I, akibat yang ditimbulkan yaitu hilangnya nyawa remaja. Sedangkan akibat yang ditimbulkan pada kasus II adalah hilangnya rasa hormat dan menghargai orangtua pada diri remaja. Untuk menghindari akibat negatif ini maka harus ada solusi yang tepat atas masalah seperti kasus I dan II. Berikut ini analisis dari kedua kasus di atas:

Faktor Penyebab

 

Kedua kasus tersebut dapat terjadi karena beberapa sebab atau faktor yang mempengaruhi, yaitu:

1.    Kurang tepatnya pola asuh orang tua.

Pola asuh orang tua yang cenderung memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga remaja tidak memiliki keleluasan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya. Orang tua terlalu memanjakan remaja, sehingga apabila keinginannya ada yang tidak terpenuhi, maka remaja tersebut akan marah. Perealisasian rasa marah ini berkaitan erat dengan emosional dan kognitif remaja. Apabila remaja lebih memilih emosinya daripada kognitifnya untuk menyelesaikan masalahnya, maka alternatif yang buruklah yang akan diambilnya.

2.    Kurangnya pengalaman yang dimiliki remaja

Pengalaman sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif remaja. Semakin banyaknya pengalaman yang pernah dialami remaja, maka semakin baik pula kemampuan kognitifnya. Dan sebaliknya sedikitnya pengalaman remaja akan menyebabkan kemampuan kognitif remaja lebih rendah. Hal itu karena, remaja memilih alternatif penyelesaian masalahnya berdasarkan kumpulan pengalaman-pengalaman. Oleh karena itu, remaja yang memiliki sedikit pengalaman akan mempunyai sedikit alternatif untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Mereka lebih mengutamakan kemampuan operasional konkret daripada operasional formal. Yaitu mereka menyelesiakan masalah tanpa adanya bahan yang kongkrit.

3.    Kurangnya peran sekolah dalam membentuk kepribadian remaja

Sekolah merupakan rumah kedua setelah rumah orang tua. Dimana remaja diajarkan ilmu, norma, dan nilai-nilai. Rendahnya kemampuan kognitif remaja dapat disebabkan oleh sekolah yang kurang merangsang perkembangan kognitif remaja. Remaja kurang mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan orang-orang yang lebih berpengalaman dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Selain itu, remaja juga kurang mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan opnininya. Kurangnya kebutuhan terhadap faktor inilah yang dapat menghambat perkembangan kognitif remaja.

Solusi Penyelesaian Kasus

 

Solusi yang dapat diterapkan untuk menyelsaikan kasus I dan II di atas, yaitu sebagai berikut:

1.    Melatih kemandirian remaja

Remaja harus membiasakan diri bersikap mandiri. Orang tua juga tidak boleh memperlakukan remaja seperti anak-anak.

Pada tahap perkembangan ini, orang tua tidak lagi sebagai pemberi asuhan dan perlindungan. Namun, orang tua berperan untuk mendukung, membimbing, dan memberikan pengarahan. Sehingga kognitif remaja dapat berkembang dengan baik.

2.    Membekali remaja dengan pengalaman-pengalaman

Kognitif remaja juga dapat berkembang dengan memperbanyak pengalaman. Pengalaman dapat didapat dengan cara aktif dalam kegiatan-kegiatan yang positif dan mengambil pelajaran dari lingkungan sekitar. Semakin banyak pengalaman remaja, maka semakin baik kemampuan remaja dalam menyelesaikan masalah.

3.    Melakukan metode pembelajaran yang mengaktifkan remaja untuk memecahkan masalah.

Pembelajaran seperti ini dapat diajarkan di sekolah, yaitu dengan menggunkan metode pengajaran berbasis problem solving. Guru memberikan beberapa contoh permasalahan kepada siswa. Kemudian masalah tersebut harus dianalisis dan diselesaikan oleh siswanya. Dengan dibiasakannya pembelajaran sperti ini, maka kemampuan kognitif remaja dapat meningkat.

4.    Banyak membaca buku.

Buku adalah sumber informasi. Dengan membiasakan remaja membaca buku, maka pengetahuan yang didapat remaja akan semakin banyak. Dari sinilah remaja dapat belajar cara-cara untuk meningkatkan kemampaun kognitifnya.

5.    Belajar berorganisasi.

Melalui organisasi, remaja akan belajar mengenai manajemen kondisi dan masalah. Selain itu, remaja juga dapat belajar bekerja sama dengan sesama anggota organisasi. Ini adalah cara yang efektif untuk merangsang kemampuan kognitif karena manajemen organisasi sangat berkaitan dengan manajemen diri.

6.    Berkonsultasi atas masalah yang dihadapi.

Adakalanya seorang remaja berada dalam kondisi tidak bisa mengambil keputusan atas masalah yang dihadapinya. Bila hal ini terjadi, maka remaja harus mengkonsultasikan permasalahan tersebut kepada orang yang dipercayainya, seperti orang tua, teman, atau guru. Dengan berkonsultasi, remaja dapat merasakan beban yang dtanggungnya berkurang. Selain itu, remaja juga bisa memperoleh saran-saran dan alternatif penyelesaian masalah.

PENUTUP

 

KESIMPULAN

 

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak menuju dewasa. Pada tahap ini, remaja mempunyai banyak tugas perkembangan yang harus dilaksanakannya. Namun, terkadang ada beberapa masalah yang dapat menghambat tugas perkembangan tersebut. Salah satu masalah itu adalah masalah yang berkaitan dengan perkembangan kognitif remaja.

Pada tahap ini, perkembangan kognitif remaja berada dalam tahapan operasional formal. Yaitu remaja dapa berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Namun, sebagian remaja masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi.

Contohnya yaitu, remaja yang tidak tepat dalam mengambil alternatif penyelesaian masalah. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, yaitu: (1) Kurang tepatnya pola asuh orang tua, (2) Kurangnya pengalaman yang dimiliki remaja, dan (3) Kurangnya peran sekolah dalam membentuk kepribadian remaja.

Adapun solusi atas masalah di atas, yaitu diantaranya: (1) Melatih kemandirian remaja, (2) Membekali remaja dengan pengalaman-pengalaman, (3) Melakukan metode pembelajaran yang mengaktifkan remaja untuk memecahkan masalah, (4) Banyak membaca buku, (5) Belajar berorganisasi, dan (6) Berkonsultasi atas masalah yang dihadapi.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, Elizabeth. B. 1980. Psikologi Perkembangan “Suatu Pendekatan

            Sepanjang Rentang Kehidupan”. Jakarta. Penerbit Erlangga

http://tiwizone.blogspot.com/2010/01/perkembangan-kognitif-remaja-tumbuh.html

http://saifulq.blogspot.com/2013/04/tugas-tugas-perkembangan remaja.html#axzz2WFrWcgyA

http://blognaeka.blogspot.com/2012/05/perkembangan-kognitif-remaja.html

http://news.detik.com/surabaya/read/2012/01/31/162927/1830644/475/ngambek-seorang-remaja-putri-di-banyuwangi-kabur-dari-rumah

http://regional.kompas.com/read/2013/04/10/09075639

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s